Feeds:
Pos
Komentar

My Diets Part Two

2010 ke 2013…

Dan tulisan ini yang bikin Saya penasaran menulis lagi. Ternyata banyak yang baca juga ya😉 *pake Saya, udah tua soalnya hehe*

Tahun berubah, yang mau dibahas tetap ajaaaa…. DIET *uhuk*

Informasi baru, Madam Gur saat ini berstatus sebagai lajang abdi negara yeee…

Tersebutlah kisah, seorang teman kerja yang akan lebih senang disebut Lulu. Lulu ini termasuk golongan 4 awal *umur yee*. Saya berteman cukup dekat dengan Lulu. Hampir setahun belakangan ini, entah bagaimana awalnya, Lulu sibuuuuukkk sekali menguruskan badan. Berikut ini jejak rekam Lulu yang bisa Saya ingat :

  1. Ke ahli urut ~> Si Lulu yang supel dan punya banyak teman ini, dapat kabar ada seorang tukang urut yang bisa mengobati penyakit apa saja. Termasuk masalah kegemukan. Saya juga masih belum jelas, profesinya ini tukang urut atau apa yaa disebutnya. Cara kerjanya, si Tukang Urut memijat kaki untuk mendeteksi masalah yang ada di tubuh kita. Untuk kasus Lulu, si Tukang urut akan memijat saraf-saraf yang berhubungan dengan selera makan, jadi lebih untuk ke menahan nafsu makan. Dan dikasih obat berupa pil.
  2. Pil cina ~> Si Tukang Urut sedang ditimpa musibah rumahtangga. Menyebabkan proses ‘pengurusan’ Lulu terhenti. Dari tetangganya, Lulu mendapat informasi tentang pil cina yang ‘cepat’ menurunkan berat badan. Lulu tertarik. Mulailah hari-hari Lulu yang harus minum pil sebelum/sesudah makan.

Mari kita fokus di pil cina. Lulu mulai dapat masalah. Suatu sore yang adem ayem di kantor, Saya yang berada di aquarium sedang bekerja pastinya ciint dikejutkan dengan kehebohan diluar. Lulu drop. Sesak napas. Katanya, pandangannya gelap. Jantung berdegup. Lulu dilarikan ke Rumah Sakit. Blablablabla, Lulu terkena Asam Lambung. Berhubung di keluarga terdekat tidak ada yang pernah terkena penyakit asam lambung, Saya agak kudet tentang penyakit satu ini. Silakan googling. Hemat Saya, Asam Lambung ini adalah Maag kronis. Kalau kata Saya, penyebabnya adalah makanan dan pikiran.

Hebohlah penghuni kantor dengan berita Lulu terkena asam lambung karena obat cina. Pelajaran buat Lulu. Mau apa lagi kalau sudah kena Asam Lambung? Ingin kurus instant, penyakit seumur hidup yang didapat. Kalau ditanya, jawabnya sih menyesal. Tapiiii, selama proses penyembuhan, Lulu dapat info dari teman-teman seperjuangan asam lambungnya, ada yang mengkonsumsi h3rb4l1f3 dan asam lambungnya tidak pernah kambuh lagi. Mudah ditebak, Lulu percaya. Setelah beberapa kali mengkonsumsi herbal itu, Lulu drop lagi😐.

Lulu teman Saya. Tapi Saya terang-terangan didepan orang-orang, termasuk Lulu sendiri, tidak ada satu kebaikan pun di proses ingin kurusnya Lulu. Mau yang instant, penyakit seumur hidup yang didapat. Menyesal? Katanya sih, Iya.

Sementara Madam Gur satu ini, masih setia dengan WRP nya. Walaupun tidak konsisten. Karena intinya, gaya hidup WRP sudah Saya dapatkan dan coba selalu terapkan. Saat ini Saya sudah tidak mengkonsumsi cookies. Cukup Nutritious Drink saja. Itupun, kalau sedang tidak ada stok WRP, sering Saya ganti dengan oat meal untuk sarapan, dan jus untuk malam hari. Tergantung apa yang ada di kulkas saja. hehehe.

Dan Olahraga. I Love Yoga.

PS : Lulu tau tentang WRP Saya. Tapi Lulu tidak tertarik mencoba. Mengapa? Karena Lulu maunya yang instaaannt.

Love Phobia

Love Phobia (2006)Uhuhuhu…

Barusan nonton film ini, setelah lama diperam di Lenny.

Jadi ceritanya,

Jo-Kang (Jo Seung-woo) bertemu dengan Ari (Kang Hye-jeong), si anak perempuan yang selalu memakai jas hujan kuning. Menurut Ari, Ia adalah makhluk dari planet lain, dan harus memakai jas hujan agar ‘kutukan’ ditubuhnya tidak menyebar ke anak-anak lain. Ari juga tidak boleh disentuh, karena kutukannya akan menyebabkan oranglain celaka. Anak-anak lain menganggap Ari aneh. Hanya Jo-Kang yang percaya dan mau berteman dengan Ari. Suatu hari, Ari dan Jo-Kang bersentuhan, dan esoknya Jo-Kang terkena campak. Ari merasa bersalah dan kemudian menghilang hingga Jo-Kang pindah ke Seoul.

Cerita berlanjut sepuluh tahun kemudian, saat Jo-Kang kembali ke desa untuk persiapan masuk universitas. Mereka kembali akrab seperti masa sepuluh tahun silam. Pertemuannya dengan Ari kembali berakhir setelah ciuman dari Ari menyebabkan ia terkena flu. Ari menghilang. Delapan tahun kemudian, cerita berlanjut ketika Jo-Kang bekerja di bank. Ari tiba-tiba muncul dan menghampirinya seperti tidak pernah terjadi perpisahan diantara mereka. Ari yang masih terus percaya akan makhluk asing, dan Jo-kang yang sudah memandang serius hubungan mereka.

Menurut Aku, jalan ceritanya sedihhhhhhh banget. Tapi, tapi, tapi ya…mungkin emang khas film korea kali ya, dari film-film yang Aku tonton, kisahnya sederhana dan menguras air mata plus lucu-lucunya orang korea sana, tapi endingnya kalau gak terlalu nangis-bombay, pasti aneh *tapi tetap aja suka*. Tergantung selera sih ya. Wuhu,, yang jadi Jo-kang itu ngguanteng bunggett coy.

Ga tau kenapa, beberapa hari kemaren, banyak teringat memorable scene film-film yang udah lama ditonton, tapi pada lupa judulnya. hukz.

. . .

Kenapa, Kita harus melihat orang lain seperti apa yang ingin Kita lihat ?

Kenapa, Kita harus merasa wajib menjadi komentator atas hidup orang lain ?

Kenapa, Kita lebih suka berprasangka, daripada bertanya kebenaran hal yang bahkan sebenarnya tidak ada hubungannya dengan diri Kita sendiri ?

Kenapa, Kita harus merasa wajib ikut menyelesaikan masalah orang lain tanpa diminta ?

Kenapa, Kita harus merasa lebih tahu segalanya dari orang lain ?

Kenapa, Kita lebih suka berbicara yang tidak penting, tidak Kita sadari sampai pembicaraan itu menjadi dosa dan menyakiti orang lain ?

Kenapa, Kita harus bersikap palsu ? berpikir palsu ? bermuka palsu ? berucap palsu ?

Kenapa, Kita katakan pada orang lain bahwa Kita adalah sahabatnya yang setia, padahal Kita selalu sedih melihat dia ‘melebihi’ Kita ?

Kenapa, Kita tidak pernah ingin sedikit saja mengerti perasaan orang lain atas tingkah laku Kita ?

Kenapa, Kita harus terpengaruh dengan sikap orang lain pada Kita ?

Kenapa, hidup Kita selalu diikuti oleh orang-orang menyebalkan yang jumlahnya tiada tara, yang membuat diri Kita mungkin akan bersikap menyebalkan juga ?

Kenapa, Kita harus hidup dengan ekspektasi yang dibuat orang lain ?

Kenapa ?

Kenapa ?

Kenapa ?

Moon-Day

Hari ini lihat pengumuman.

Gak ada namaku.

Gagal.

Penantian panjang sebulan ini akhirnya selesai juga, walau hasilnya mengecewakan.

Aku heran, ternyata Aku gak mengumpat, marah-marah, kesal, atau nangis tengkurap dikamar dengan hasil kegagalanku itu. Setelah buka websitenya, baca doa dalam hati sambil nunggu loading, lihat gak ada namaku, hmmm Okey…setelah itu langsung sholat dhuha,,bilang makasih sama Allah atas berkat dan rahmatNya.

Kembali ke laptop, chatting dengan teman-teman dan ngasih kabar mengenai kegagalanku, rata-rata bilang “sabar” atau “belum rejeki”. Yaa, semuanya betul. Aku sangat sangat sangat percaya dengan kuasa Allah. Semua sudah ada jalannya. Semua ada aturan alamnya.

Jadi ceritanya, Aku sangat sangat ingin bergabung di kantor bergengsi bergaji tinggi itu. Administrasi lulus, biasa aja. Lulus tes tertulis yang susahnya naudzubillah, mulai ada harapan, karena dari hampir ribuan peserta yang lolos hanya untuk jurusan Teknik Informatika, hanya tersisa puluhan nama, termasuk namaku. Lalu tibalah psikotes. Dibilang susah ya susah, dibilang gampang ya gampang. Saat di interview oleh tim dari UI, peserta dikumpulkan dalam grup kecil, diwawancara didepan teman lainnya dan berdiskusi. Setelah kupikirkan lagi saat ini, saat interview itulah saat kegagalanku. Mendengar peserta lain di wawancara, Okey…

Karena itu Aku gak berhak marah.

Gak berhak protes.

Gak berhak merengek sama Allah, “Ya Allah, kenapa Kau beri aku cobaan begini? apa salah dan dosaku, ya Allah?”

Aku tersenyum sewaktu berdoa kepada Allah, ternyata Allah memang makin hari makin sayang sama Aku. Atau mungkin, pikiranku yang lebih terbuka menerima keputusanNya.

Jadi ingat buku Negeri 5 Menara, Aku yakin belum menggunakan mantera Man Jadda Wajada. Aku belum cukup bersungguh-sungguh.

Aku memang berusaha keras, tapi peserta lain berusaha lebih kerasa daripada diriku.

Aku memang selalu bersujud dan berdoa pada Allah, tapi peserta lain sujud lebih lama dan khusyuk daripada diriku.

So, Aku yakinkan diriku, it’s not the end of the world. Cemeeen, wajar donk gagal, liat tuh peserta lain lebih mantap dari kamu? makanya persiapan lebih matang lagi. Aku harus percaya, masih ada tahun depan [bukankah selalu ada hari esok untuk bekerja, dan tak pernah ada hari esok untuk ibadah?] untuk terus mencoba, masih ada tempat lain yang kuinginkan.

Pa, Ma… doakan yaaa.

She & I

This page’s for you, darlink…

Dia lagi kangen berat sama diriku. As always, hehehe.

So, setelah chitchatchut panjang lebar, setelah kangen-kangenan di ym, baru ngeh kalau Darlink ku ini lagi kesepian *yaeyyalahh,,secara gak ada Aku di sana. Jogja pasti mendung dimatamu, darlink*

Darlink aka Dewik ini seorang sohib *yaik, sohib ?!* ku. Kita gak kenal dari awal, baru setelah semester berapaaa gitu baru temenan. Dia ini, orang paling gak punya ekspresi sedunia. Mau senang, sedih, bete, kesal, merana blablabla mukanya tetap aja gitu. Kecuali kalau sama cowoknya aja, ekspresinya baru keluar😉 .

Awal-awal berteman, kita belum terlalu dekat kecuali kalau kuliah bareng atau bikin tugas aja. Dulu kita punya genk masing-masing *genk = teman main*. Lupa juga bagaimana kronologisnya, habis itu kita akrab deh. Maen bareng, makan bareng, kuliah bareng, bikin tugas bareng, tidur bareng, pokoknya bareng semua deh. Mandi aja yang gak pernah bareng.

Dewik itu, menyenangkan. Tapi sangat pendiam. Kalau baru kenal atau temenan, gak akan ngomong kalau gak dipancing dulu. Gak akan curhat kalau gak ditanyain lebih dulu. Makanya sering bikin penasaran. Emang sih ya, kalau orang pendiam gitu malah bikin penasaran sama kisah hidupnya, serasa ada banyak rahasia yang belum terkuak. Kalau cerita juga gak asik, mesti ditanyain “terus wik, gimana?” atau “terus reaksi kamu apa?” atau “terus akhirnya gimana?”. Arrghhh, emang menyebalkan sikapnya yang itu. Tapi senang aja nanyain dia. Dia, kalau malu-malu suka salah tingkah. Ditanyain tentang cowoknya, salah tingkah juga. Salah tingkahnya itu loh, keliatan sekali. Apa aja yang didekatnya, jadi kacau. Sobekin kertas, mainin kerudung orang, pokoknya sangat tidak jelaslah tingkahnya itu. Jadi makin senang aja nanyainnya. Dia nih kalau lagi bad mood or bete or stress or gila, kelakuannya bisa gak jelas juga.

Pernah nih, Dewik streezz berat gara-gara sesuatu yang penting dalam hidupnya, hihihihi, kita – orang-orang disekitarnya – jadi dibawa ikut panik. Dia tiba-tiba bawa ransel, katanya mau nginap di tempat teman yang dari Sampit juga. Trus lupa kenapa, dia gak jadi nginap. Lalu sebagai psikolognya, kubawalah dia makan di angkringan bu bengkong, mendengarkan curhatnya, sedikit mengalihkan perhatiannya dari kemungkinan bunuh diri *yeaw, gak mungkin ah!*. Berhubung dia belum reda juga, kita jalan aja gitu loh ke Bandara sampai hampir jam 12 malam. Bayangkan, cewek berdua, naek motor malam-malam, turun gunung, di bandara juga gak jelas, cuma nonton tipinya doank dan diliatin satpam. Kita pulang setelah dapat panggilan dari genk yang laen. Kayaknya sempat ke McD dulu, lupa juga. Ahahhaha, kalau ingat itu, berasa mau ketawaaaa aja. Itulah Darlinkku, gak bisa ditebak.

Dewik ini partner setia dalam menggerayangi mal-mal di jogja. Lagi dhuafa pun, kalau diajak jalan pasti oke aja. Dan kita emang jalan aja, tanpa ada tujuan. Belanja sih urusan belakangan, yang penting having quality time together lah. Begitu juga dengan urusan nonton. Secara kita sehati gitu, sehabis nonton pasti suka komentar, komentarnya sama pula. Jadi terasa sekali setelah di Pekanbaru, gak ada teman sehati ke mal dan nonton. hikz. Mizz yu.

Diakhir-akhir kebersamaan kita *backsound : vit C – graduation*, masa-masa setelah TA-ku beres, Aku sering nginap dikosnya Dewik. Biasanya sih, dia yang nginap dikosku. Ingat sekali lah rutinitas saat-saat itu, sehabis nginap bareng, makan siang bareng, trus ke mal sampai bosan, menjajali jogja, malam-malam naek gunung lagi *tak lupa beli jagung rebus*, nginap lagi, nggosip lagi, blablabla..begitu terus. *Ah,,kenapa jadi rindu Jogja juga…?*

Darlink, i miss yu deh…

Semoga gak kesepian lagi yaaaa ….

Bulan ini selesai mbaca 3 novel : Negeri Van Orange, Negeri 5 Menara, Ai.

Negeri Van Oranje

Baca ini gara-gara dipengaruhi Mei. Katanya bagus, dan lagi sesuai dengan selera-seleranya sekarang. Novel-novel tentang kehidupan mahasiswa di Eropa. Jadi, kubelilah novel ini.

Negeri Van Oranje

Negeri Van Oranje

Kisah tentang lima mahasiswa asal Indonesia yang melanjutkan kuliah ke Belanda. Ada aktivis lingkungan hidup, penari, pengusaha, sampai pegawai departemen agama. Kita diperkenalkan kepada sosok Lintang, Banjar, Daus, Geri, dan Wicak. Jalan ceritanya ? tentu saja tentang suka-duka-pahit-manis segala pengalaman belajar di negeri kincir angin tersebut. Tentang persahabatan mereka, tentang dilema sebagai mahasiswa beasiswa yang harus kembali ke Indonesia, dan tentu saja tentangpercik-percik cinta yang muncul diantara mereka.

Biasa aja? No no no, nehi nehi nehi… Ceritanya lucu, seperti kata Andrea Hirata : “novel yang menyenangkan…”. Tips-tips hidup di Belanda disajikan dengan begitu menyenangkan *kayaknya kalo mw ke Belanda musti bawa buku ini deh*. Ceritanya serius, tapi lagi-lagi disajikan dengan begitu menyenangkan. Seperti ketika mereka dilemma akan pilihan setelah selesai belajar di Belanda, semua punya pilihan yang gak menggurui, terserah kita akan memilih kemana. Pintar aja mereka meramu semuanya ke buku ini.

Negeri 5 Menara

Kalau yang ini, tertarik baca setelah sering banget liat buku ini bertumpuk di Gramedia. Lalu gak sengaja baca resensinya di Kompas minggu, makin tertarik aja bacanya.

Berkisah tentang Alif, seorang remaja dari Maninjau, Sumatera Barat yang di’sekolah’kan Amaknya ke Pondok Madani, sebuah pesantren modern di Jawa Timur. Setengah hati Alif memasuki PM ini, karena sesungguhnya ia ingin melanjutkan ke SMA Negeri bersama sahabatnya Randai. Alif hanya tidak tahu apa yang menantinya di PM selama empat tahun kedepan.

Di novel karya A. Fuadi ini, kita diperkenalkan pada kekuatan Man Jadda Wajada : Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan sukses. Kekuatan mimpi, ikhlas, bekerja keras mengiringi perjalanan kita mengarungi kisah-kisah di PM. Aku lebih tertarik dengan kehidupan pesantren disini *kayaknya, setting aslinya adalah Gontor. munggkiiinnn….*, dan hikmah-hikmah serta petikan dari ustad-ustad PM. Sewaktu baca resensinya di Kompas, si penulis *resensi, bukan novelnya* mengutip selembar halaman pembelajaran di novel ini, dan itulah yang membuatku berharap akan menemukan banyak petuah-petuah di novel ini. Dan, Aku gak kecewa untuk itu.

Ai : Cinta Tak Pernah Lelah Menanti

Novel ini hasil pinjaman, yang tergeletak di meja berminggu-minggu, menunggu giliran untuk dibaca. Agak remeh, malas bacanya karena baca sinopsisnya, sepertinya cuma kisah novel remaja biasa. Tapiiiiiiii, ternyata inilah Book of The Month, edisi November.

Berkisah tentang dua sahabat, Ai dan Sei yang saling menyimpan cinta dalam hati dan mengemasnya dalam bentuk persahabatan. Ai dan Sei bersahabat sejak kecil, hingga suatu hari di masa remaja mereka, datang Shin yang menjadi sahabat ketiga bagi mereka berdua. Ai yang telah patah hati akan cintanya pada Sei, mulai mencintai Shin. Dan Sei, yang semakin menyadari cintanya pada Ai semakin besar, harus bisa merelakan Ai bahagia bersama orang yang dicintainya.

Sumpah ya, awalnya memang malas banget mw baca novel ini. Apalagi settingnya di Jepang. Bukan Aku tak suka Jepangnya, tapi ini penulisnya, orang Indonesia, aneh saja kalau membayangkannya. Setelah baca novel ini, sumpah Aku langsung jatuh cinta. Ceritanya sederhana tapi rumit. Ibaratnya nih, “cuma kisah cinta dan persahabatan”. Tapiiiii,,, i love it. Aku suka dengan dialog-dialognya yang puitis tapi gak cengeng. Dengan jalan cerita yang ketebak tapi bikin penasaran. Dengan kisah cinta yang aneh tapi menyenangkan. benar-benar cintttttaaaaa sama buku ini. Janji deh, walaupun udah baca hasil pinjaman, nanti akan tetap beli buku ini. Setiap kata-kata dalam novel ini gak akan mengecewakanku, begitu berharga, layak buat dikoleksi.*gak lebay kan?*

-> Again, Aku benar-benar cinta sama novel Ai, dan begitu semangat ngasih tau ke orang-orang supaya baca novel ini. Kalau ada yang udah baca dan kecewa sama novel ini, well… selera kita beda, kawan. Tapi Aku haqqul yaqin banyak orang akan berpendapat sama denganku. Novel yang indah. Mau coba baca karya Winna Efendi yang lain, kali bakal jatuh cinta lagi.

😀

Okkkkeeeyyy,,,siap-siap sama bacaan bulan Desember. Tapi, lagi kangen pengen nonton dorama ato serial korea, tapi di Pekanbaru susah aja nyarinya. Hikz.

Ps : gak tau kenapa, gak bisa upload cover dua buku lainnya, yang muncul malah cover pertama aja.

Duyung

Duyung

Duyung

Bagi yang suka Upin-Ipin, pasti bakal suka juga sama film ini. Kenapa ? Selain menggunakan bahasa melayu Malaysia yang kental, film ini juga luuuuttccchhhhuuu sangat, menurutku. Tapi bukan kartun.

Ceritanya begini, ada seorang bujang di kampung nelayan (mmm, benar gak ya? pokoknya mereka warga laut gitulah, rumahnya diatas laut semua), Jimmy si Pendekar Laut (Saiful Apek). Si Jimmy dan Orix -temannya yang mirip beruk- tiap hari memungut sampah di laut tempat tinggalnya. Karena Jimmy yakin, kalau lautnya bersih, maka ia akan bisa bertemu dengan putri duyung yang dimpi-impikannya sejak kecil. Jimmy pun dianggap gila oleh warga selaut.

Jimmy juga punya kekasih hati masa kecil, Aspalela yang cantik. Tapi, Wak Pagek, Ayah Aspalela menolak Jimmy karena ia tidak punya pekerjaan dan tak punya tanah (pulau). Maka, dengan sampah-sampah miliknya, Jimmy pun membuat pulau sendiri didepan rumah Asplalela, demi membuktikan keseriusannya hendak mengawini Aspalela. Kordi, si berandal kampung yang juga ingin meminang Aspalela, marah dan menabrak pulau Jimmy yang berpondasikan botol-botol bekas dengan perahu boatnya. Saat Jimmy terjun ke laut mengumpulkan botol-botol itu, ia bertemu putri duyung impiannya.

Sekali lagi, ceritanya benar-benar lucu. Si Jimmy yang diperankan Saiful Apek mirip dengan Aming. Dan juga, ada lagu di film ini yang iramanya mirip lagu Bintang Kejora (kayaknya iya Bintang Kejora sih). Ceritanya, walau bodoh-bodoh ringan, sangat pintar juga menurutku. Hari gini, masa masih ada cerita putri duyung? hehehehe. Intinya, kita harus menjaga kebersihan laut dan bersahabat dengan alam. Malaysia benar-benar pandai memanfaatkan alam lautnya yang indah di film ini. Alam laut di film ini benar-benar bagus, Aku gak tahu kalau Malaysia punya potensi wisata sebagus itu.

Kalau dipikir sih, Indonesia juga punya buaaannnnyyyaaaakkkkk tempat yang bagus-bagus. Sangat bagus, malah. Sebut saja spot-spot di timur Indonesia yang kebanyakan masih perawan tapi dikuasai oleh pihak asing. Atau di barat Indonesia sini yang sudah mulai dikuasai asing juga. Whooopss, jangan salahkan mereka yang pasti kagum sama alam kita sampai ingin  memiliki. Aku juga, kalau tiba-tiba nemu pulau indah di India sana, dicuekin sama negaranya, dan pasti mendatangkan ribuan dolar ke kantong, pasti akan langsung pengen beli tuh pulau. Biar deh ngutang dulu, yang penting pulaunya di-cop-in, diolah sampai menghasilkan. Puas. Kaya.

Tujuan wisata yang selama ini ditonjolkan di Visit-Visit Indonesia dan segala macam itu, menurutku sudah jadul. Sudah “oohh ini, udah tau…biasa aja tuh”. Gak perlu juga menarik wisatawan ke Indonesia dengan iklan-iklan dan semacamnya yang mahhhaal itu *kan kita gak kaya-kaya amat juga kalau menyangkut keluar dana*. Coba lihat Korea, Jepang atau nih Malaysia, yang lewat film, dia kasih liat ke semua orang betapa indah negaranya *gak perlu Aku tambahin Eropa kan?*. Aku aja jadi pengen ke negara-negara itu. Padahal filmnya yang kutonton juga kebanyakan serial atau film komedi drama percintaan. Maka, Aku sangat bersyukur sekali ada orang-orang macam Nia Zulkarnaen dan Mira Lesmana yang mungkin masih cinta sama alam Indonesia, yang mau menunjukkan ke khalayak di luar sana kalau kita ini KAYA.*Sudah pernah lihat alam Papua sebelum nonton Denias? atau jadi pengen ke Babel setelah lihat indah pantainya di Laskar pelangi?*

Tapi, jangan sekarang dicuekin, nanti setelah disuruh bayar pake dolar padahal cuma provinsi tetangga, marah-marah *marah karena nasionalisme? atau marah karena uangnya gak masuk ke kas negara? ahh sama saja ya maksudnya?*. Atau setelah punya kawasan wisata bagus-bagus, eh gak dipelihara, dibiarin aja gak terurus, atau malah agak ekstrim, dirusak. Uhu, sedihnya.