buzz..buzz..buzz..

Indonesian Movie Industry : through the ages

Judul diatas pernah Aq gunakan untuk judul presentasi di LIA. Yagh, mw lulus di LIA memang harus presentasi dulu. Sempat bingung juga mw membahas topik apa. Berhubung Aq tau-tau dikit tentang film dan mulai pesimis dengan kualitas film indonesia, akhirnya judul diatas terpakai juga. Maka dimulailah mencari artikel-artikel film di Cinemags en internet. Tulisan dibawah ini hanya merupakan saduran dari presentasiku.

Untuk kemudahan pemahaman, Aq membagi dunia perfilman Indonesia kedalam 3 periode :

1. Periode 1900’s

Dunia perfilman Indonesia dimulai sejak tahun 1926 dengan film pertama kita “Loetoeng Kasaroeng”. Berhubung kita masih zamannya penjajahan, film-film pada masa 1900an (1900-1950an) ini didominasi dengan tema perang dan nasionalisme. Aq kurang begitu penjelasan mengenai film pada zaman ini (maklum, kurang ada ketertarikan karena tidak begitu dekat dengan zamannya).

Poin yang Aq ingat yang terjadi di masa ini adalah pembuatan film ‘Tjitra’ yang kemudian namanya diabadikan lewat Piala Citra (penghargaan untuk insane film Indonesia). Lalu, tanggal 30 Maret 1950 ditetapkan sebagai Hari Film Nasional dengan Usmar Ismail sebagai Bapak Perfilman kita. FYI, 30 Maret 1950 adalah hari syuting pertama film “Long March” karya Usmar Ismail.

2. periode 1970’s

Tiga dekade pada periode ini boleh dibilang zaman emasnya film Indonesia. Berbagai tema film muncul. Ada tentang percintaan, komedi, laga, horror dan lain-lain dah. Film laga, bintangnya tentu saja Barry Prima dengan film terkenalnya Jaka Sembung. Film komedi dipegang oleh Warkop DKI dengan film-filmnya yang nyeleneh itu. Bahkan filmnya masih dapat kita saksikan hingga sekarang, karena masih ada stasiun TV yang menayangkannya. Berarti masih banyak penggemarnya ya, dan tentu saja berarti film ini tak lekang dimakan waktu (halahhh!!). Ratunya film Horor, tentu saja Suzanna. Seorang teman cowok pernah bilang lebih takut nonton film Suzanna disbanding film-film horror yang banyak bertebaran saat ini.

Tak ketinggalan, kak Oma hadir dengan tema percintaan yang diiringi dengan tembang-tembang andalannya (dan tentu saja GITARnya. Hidup Kak Oma!!! Ter-la-lu-). Di genre drama percintaan remaja, Christine Hakim, Rano Karno, Yessi Gusman dkk beraksi. Film Badai Pasti Berlalu (Slamet rahardjo, Christine Hakim) sampai dibuat remake nya, yang dibintangi oleh Raihaanun dan Vino Bastian. Lalu film yang remaja bangeD, Catatan Si Boy (Aq ingat suka nonton Mas Boy pas zaman SD/SMP. Mas Boy guanteng buenget dah waktu ituh).

Mas Boyyyy...
Mas Boyyyy...

Kalau tidak salah sequel terakhir film Cabo sudah memasuki era kehancuran film Indonesia. Sebabnya tak lain tak bukan adalah produksi film-film Erotis yang mulai menjamur di tahu 1990an (Kalau tidak salah, 1993-1997). Bintangnya adalah Inneke Koesherawati (sangat cantik setelah berjilbab), Kiki Fatmala dkk. Tentu saja film ‘seks’ ini adalah hasil pemikiran singkat : banyak peminatnya dan tidak perlu biaya produksi yang mahal. Gimana bisa mahal ? ceritanya begitu-begitu aja, yang penting ada adegan ML-nya deh. Saya ingat pernah nonton film ini setelah ngeKos di Jogja, judulnya “Pria Gigolo” (Makjeng!!! Filmnya amat sangat murahan sekali. Malah jadi bahan tertawaan sama teman kos). Masyarakat Indonesia akhirnya mengalami kejenuhan akan film-film ‘panas’ zaman ini. (Karena Krismon), Indonesia mencatat hanya ada 4 produksi film pada tahun 1997-1998.

3. periode 2000’s

Periode ini diwarnai dengan kehadiran Petualangan Sherina (1999) dan Ada Apa Dengan Cinta (2001) yang sukses secara komersil. Dua film ini merupakan tonggak awal bangkitnya film Indonesia saat ini. Nama Sherina, Dian Sastro dan Nicolas Saputra pun meroket. Mereka ibarat icon anak muda (caelah) zaman itu. Aq ingat banget, pas SMA banyak murid cewek yang pakai kaos kaki sampai dibawah lutut khasnya Cinta. Rambut digerai dan dikasih bando (tsahh!!). Cinta abiezzzzzz!!!

AADC?
AADC?

Namun, beberapa tahun belakangan ini, menurut Aq zaman Film Indonesia mulai tidak sehat lagi. Tema yang disajikan memang beragam. Bintang-bintang pun bertebaran (di langit). Setelah AADC?, muncul drama2 percintaan seperti “Eiffel I’m In Love” yang laris manis dan seterusnya. Tapi, yang kemudian hadir adalah film percintaan anak remaja yang dilatarbelakangi oleh kekayaan (orangtua) melimpah ruah dan pergaulan yang GHAUL MAMPUS (contoh nyata, Apa Artinya Cinta ;)). Film Horor pun begitu. Terus terang, dulu Aq takut banget sama Jelangkung dan Tusuk Jelangkung. Tapi belakangan, film horror yang muncul malah jadi seperti film komedi saja. Hantunya aneh2 dan gak logis (ada ya hantu yang logis?). Film yang seharusnya memunculkan ketakutan luar biasa pun akhirnya hanya menjadi bahan tertawaan saja (contoh nyata, Terowongan Casablanca. Adegannya banyak meniru film Shutter dan hantunya aneh. Aq nyesal banget nonton ini di 21!). Lanjut ke tema komedi. Komedi yang paling banyak diminati adalah komedi dewasa. Setelah Quickie Express, banyak film bertema komedi dewasa seperti itu bertebaran. Jadi bikin Aq ilfil untuk nontonnya di bioskop. Sayang duit!

Dengan banyaknya film bertemakan komedi dewasa saat ini, bahkan sampai ada pencekalan dilarang beredar, apa mungkin Film Indonesia balik lagi ke zaman satu decade sebelumnya, menjadi film-film E R O T I S ???

Wah kalau begitu, tentu saja kita harus siap-siap untuk kejenuhan akan Film Indonesia, sekali lagi.

Iklan

3 tanggapan untuk “Indonesian Movie Industry : through the ages

  1. hmmm begitulah kondisi film kita. Sinetron yang ngga mutu pun semakin banyak bertebaran di Tipi, sinetron aneh2 (*baca yang pake animasi lucuh)…
    jadi klo mau ke dua satu, mending tonton film barat ajah deh…

  2. @Cokie…
    Ho-oh cok….makin gak mutu yak sinetron di tivi itu…heheh…

    @Gilang_Linglung
    Ya bikin lah pak filmnya…
    fufufufuuf..
    ntar aq jadi peran pembantu yak…numpang lewat jg gapapa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s