buzz..buzz..buzz..

Sepotong Kisah…

Kelas dua SD, dia jadi anak pindahan dari Bandung. Bukan anak yang layak di cap “igh,,guanteng buanget!!” untuk level anak SD, tapi karena dia baru pindah, muka baru, duduk persis di bangku belakang, dia jadi idola nomor 2 setelah ketua kelas. Ternyata, otaknya encer…makin mantaplah dia duduk di posisi nomor 2 *teteupp, setelah si-cool-charm ketua kelas, karena dia ternyata agak lemah dalam olahraga*

Sekitar setahun kemudian dia jadi tetangga ‘jauh’, bukan jarak yang dekat untuk melakukan ritual tetangga seperti tukar masakan dan bukan jarak yang jauh untuk melewati rumahnya sambil joging pagi. Dan sedikit tersipu malu kuakui, selalu terbersit harapan dia sedang main di teras rumahnya, bisa jadi alasan untuk ngobrol singkat yang dilama-lamakan.

Aku mencari-cari dalam kamus hatiku, sebuah kata bertajuk asmara dan cinta. Aku jumpai, tapi aku tak mengerti maknanya. Yang ada hanyalah, aku senang saat berada dekat dengannya. Aku senang dia duduk dibelakangku. Aku senang dengan logat bicaranya. Aku senang dengan dia ikut tertawa ketika aku bercanda. Aku senang dia berdiri disampingku saat upacara bendera. Aku senang dengan status juara kelasnya. Aku senang menyadari dia lebih dekat denganku ketimbang anak cewek lainnya. Aku senang ketika dia selalu hadir di kelas. Aku senang untuk banyak hal sepele yang ada dia didalamnya. Lima tahun SD sejak keberadaannya menyimpan kenangan indah, bahagia.

Sayang seribu sayang, kami memilih SMP yang berbeda. Hatiku tidak hancur berantakan, aku tidak menangis sepanjang hari, tapi pikiranku selalu menyeberangi sekolahku, jauh ke SMP tempat ia saat itu. Tidak ada alasan untuk bertemu dengannya. Tidak ada alasan untuk menelpon rumahnya. Yang bisa aku lakukan hanya joging pagi, berdoa semoga dia ada di teras rumahnya, tapi dia tidak pernah ada. Akhirnya, ritual silaturrahmi lewat telpon dengan seorang teman dekat saat SD, aku jadikan kesempatan untuk curhat dan bertanya keadaan seseorang yang selalu menari-nari di alam pikirku. Aku jadi tahu saat itu dia tetap seperti dia sewaktu SD : lemah olahraga dan otaknya tetap encer. Aku juga jadi tahu, dia digosipkan dengan teman ceweknya *gosip percintaan ala anak SMP*, yang aku tidak tahu siapa anak cewek itu, tapi aku benci setengah mati dengannya. Tiga tahun terpisah, aku selalu dibayang-bayangi perasaan masa lalu.

Tak kusangka, kami memasuki SMA yang sama. Pertama aku melihatnya, saat hari pendaftaran ulang dan pengukuran baju. Aku berdiri didekatnya dan menyapanya, tapi dia tidak melihatku. Aku tahu itu ketidaksengajaan, tapi hatiku terlanjur marah. Aku tersinggung. Setelah kami resmi menjadi siswa SMA dan memasuki ospek, aku benar-benar tidak mencoba menyapanya lagi. Aku menghindar. Kalau aku harus melewatinya, aku pura-pura sibuk bicara dengan teman atau lebih sadis lagi, pura-pura tidak melihatnya padahal aku membaca gelagatnya yang akan tersenyum padaku. Dia mengambil tempat dekat denganku di kantin, tapi aku pura-pura tidak mengenalnya. Kejadian seperti itu berlanjut terus, sampai akhirnya menjadi kebiasaan dan hubunganku dengannya terlihat seperti “cuma satu sekolah”. Beredar kabar, dia pacaran dengan teman sekelasnya. Tanpa alasan yang jelas, aku benar-benar mengacuhkannya dan memalingkan muka ketika melihatnya.

Hingga suatu ketika, kami tak sengaja bertemu di kantin. Dia berdiri di pintu yang jelas-jelas harus aku lewati. Dia menunggu disana. Aku pura-pura sibuk dengan mangkuk mi yang sedang kubawa, dan bersiap pasang jurus tidak kenal. “Kamu sekarang sombong ya…”. Aku mendengarnya, aku mendengarnya bahkan sampai bertahun-tahun kemudian. Kaget, aku tersenyum “Kamu tu yang sombong…”. Senang, bahagia, makan mi jadi lebih indah. Dengan teguran sesaat itu, kesombonganku yang hampir setahun itu luluh. Alasan yang dibuat-buat untuk marah padanya, menguap. Menguap bersama panasnya mi instant. Sejak itu, aku menyapanya. Aku tersenyum padanya. Aku kembali ke kebiasaan lamaku, senang pada hal-hal sepele yang ada dia didalamnya. Aku ke kelasnya mencari teman yang kukenal, padahal hanya untuk melihat dia. Mataku selalu waspada selama jam mata pelajaran, memperhatikan siswa yang melewati kelasku untuk ke toilet, kalau-kalau ada dia. Saat masa-masa selesai ujian, aku dan beberapa orang teman cewek bergosip ria di kelas. Aku melihatnya, berlari akan melewati kelasku. Dia melihatku dan masuk. Untuk hal yang benar-benar sepele, aku sangat bahagia : dia menitipkan tas nya padaku. Akhirnya kami berteman kembali. Kami berteman kembali. Kami berteman kembali *gema kebahagiaan*

Dimulainya masa pertemanan kami kembali, benar-benar merubah alur kebodohan dengan kesombongan yang aku bangun hampir setahun penuh. Suatu malam dia ke rumahku untuk pinjam buku, dan beberapa hari kemudian aku menemuinya untuk menagih buku itu. Dan kemudian dia datang ke kelas untuk mengembalikan buku. Awal pertemanan yang benar-benar indah. Aku benar-benar menyadari kebodohan yang aku perbuat, karena dia memang tidak tahu mengapa aku dulu bersikap sadis-kejam terhadap dia, terhadap teman kecilku. Aku tidak terganggu lagi dengan status ‘in a relationship’nya. Aku benar-benar berteman dengannya, bahkan dengan pacarnya.

Saat masa-masa indah itu, dirusak dengan kepindahannya ke Bandung. Lagi-lagi kami harus berpisah. Ia melanjutkan sisa masa  SMA di bandung, untuk persiapan kuliahnya nanti di kota itu. Hatiku tidak hancur berantakan, aku tidak menangis sepanjang hari, tapi aku sedih. Saat aku mulai berteman dengannya, dia harus pergi. Tidak ada perpisahan, tidak ada selamat tinggal, dia pergi begitu saja. Dari ibuku, aku jadi tahu kalau akhirnya dia memang menjadi mahasiswa disana. Untuk kesekian kali, pikiranku terus dibayang-bayangi keberadaannya.

Aku memang bukan anak-anak lagi. Aku bukan ABG SMA lagi. Aku sudah menjadi mahasiswa tingkat empat. Umurku sudah 21 tahun. Tapi hatiku selalu menjelma menjadi hati seorang anak SMA yang selalu memikirkan keberadaan dia yang bahkan mungkin tidak memikirkan diriku. Aku tidak mengerti. Obsesikah ini? Apakah ini hanya buah rasa  penasaranku? Perasaanku yang masih tidak jelas, tidak terjawab? kalau iya, kapan akan berakhir?

Kata orang, dunia itu sempit. Bagiku, jika berbicara tentang dia, dunia itu luas. Sangat luas. Kami tetangga ‘jauh’, aku joging melewati rumahnya, tapi aku tidak pernah bertemu dengannya. Sedih hatiku. Aku ingin memastikan perasaanku, tapi tidak pernah ada kesempatan untuk itu.

Iklan

11 tanggapan untuk “Sepotong Kisah…

  1. eh tapi aku suka loh,,

    tulisannya menggiring aku untuk menghayati peran “Aku” ini, jadi ceritanya berasa gitu….

    *abis ini traktir*

  2. cie-cie…
    pengalaman pribadi ni geng…

    keyen kuk,,,

    andai aq jyang jadi cowok i2,,,

    hahahahhaa….pasti perannyaco2k bgt ma aq,,,aq kan gag suka olah raga juga…

  3. @ Adi…
    hahaha,,mungkin karena mang terasa jujur..?

    @u-r
    kalo qmu yng jadi cowo itu,,ntar aq gak jadi bikin cerita ini dunk…hohooh…

  4. tambahan lagi buat Adi..
    mungkin karena cerita ini aq bikin mang sok serius juga siyh *sepenuh jiwa raga hati dan cintaku. hueks*…yang laen sekena hati ajah…hahahhaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s