buzz..buzz..buzz.. · moviez

KambingJantan the Movie

Berikut ini beberapa kutukan dalam hal nonton di bioskop :

  1. Telat datang
  2. Duduk disamping spoiler
  3. Perut kruyuk-an
  4. Film yang ditonton gak asik

Untungnya Aku sedikit beruntung, pas nonton Kambing Jantan malam ini Aku gak mengalami kutukan nomor dua. Tapiiii, kutukan terburuk yang Aku alami dan sangat tidak Aku harapkan adalah munculnya kutukan nomor empat *selevel dengan avada kadavra-nya Harry Potter. Kutukan mematikan dalam jagad nonton bioskop*.

KJ the movie
KJ the movie

Dari kapan tau KambingJantan (KJ) akan difilmkan, Aku udah berharap film ini akan beda. Akan membawa angin segar. Akan amat sangat menghibur. Apalagi kalau liat nama-nama didalam film ini. Ada Rudi Sudjarwo, Salman Aristo dan Raditya Dika sendiri. Gileeee gak tuh kombinasinya…? Yang pertama bikin optimis kalau film ini akan enak-dinikmati adalah unsur Salman Aristo sebagai penulis skenario, secara yaaa film-film yang udah dia pegang berkesan sekali di hati (Jomblo, AAC, Alexandria, Brownies, etc – > wiki wiki). Lalu Rudi Sudjarwo? Yaa, dulu menurutku dia itu Sutradara sepanjang masa sebelum Aku berpaling ke Hanung Bramantyo, yang lebih berkesan kalau bikin film, menurutku. Lagian, karya Rudi menurutku angin-anginan, kadang menurutku OK, kadang Aku malah gak paham. Yagh, orang jenius emang susah dimengerti kali yak..? lanjoot…

Tapi, sayang sungguh sayang.

Semangat menggebu-gebu sebelum nonton berbanding terbalik dengan kesan di hatiku setelah nonton…(?!)

Begini ceritanya…

Jadi, dari kemaren-kemaren, Aku en my besties udah janjian mw nonton KJ. Dapat tiket jam 18.30, dan alhamdulillah kita datang telat, tapi kayaknya gak telat-telat amatlah. Dari awal, Aku udah mulai curiga, kenapa ceritanya lambat begini…? Is it just me…? Tapi tetap cuek ajah ngikutin, mencoba asik dan antusias. Daaannn, belom setengah perjalanan film, perasaanku benar-benar gak enak. Mulai nguap-nguap gak jelas, mikir-mikir kapan ini film akan selesai, trus muncul pikiran ‘mending nonton yang laen’. OHH tidaaakkk,,yang terakhir itu pikiran kejam. Jangan salahkan Aku sehingga muncul pikiran seperti itu. Setelah nonton pun, setelah geliat-geliat bosan, Ndol en Dewik bersuara. Kata mereka, film ini gak begitu asik. WAW, dan Aku pun langsung mengangguk mantap.

Menurut blognya, cerita film ini memang akan sangat berbeda dengan bukunya. Di film lebih fokus ke cerita percintaan Kambing dan Kebo, dan tentang persahabatan Radith dengan Hariyanto. Dan tentu saja, dibumbui dengan cerita-cerita / kejadian konyol yang dialami Dika.

OK, emang itu aja sih intinya.

Tapi, [ lagi-lagi] sayangnya, Aku gak nangkap apa yang mw diceritain Dika di film ini. Kalau kata Ndol, ceritanya nanggung. Mw lucu, tapi gak lucu-lucu amat. Mw sedih, tapi juga gak sedih-sedih amat. Padahal menurutku, banyak quote yang bagus dan ngena banget, tp tetep aja jadinya kurang berkesan.

Sorry to say, tapi menurutku film ini gak punya cerita. Datar banget. Cuma pas adegan-adegan lebay aja Aku ketawa, lainnya cuma bikin nguap. Hooaahheem. Bukan reaksi yang Aku harapkan dari buah karya penulis favoritku. Apa sang kreator film berharap terlalu banyak dari unsur kelucuan Raditya Dika di buku, yang mana kalau di filmkan ituh sangat berbeda hasilnya? Ada apa dengan kombinasi maut ituh yak…? Rudi, Salman dan Dika…? Atau akankah berbeda seandainya Salman Aristo kerjasama dengan Hanung Bramantyo…? Argh, tauk deh. Yang penting, kecewa sama filmnya, tapi gak ikutan kecewa sama penulisnya.

Iklan

15 tanggapan untuk “KambingJantan the Movie

  1. @ ndy_kcill
    Yeah,,silakan nonton…dan kalo sempet, silakan kasi respon ke aku, cuma pengen tau aja gimana reaksinya…hahahha…Aq juga suka radith bo’, tp filmnya menurutku bener2 mengecewakan…

    @ bandit_kesiangan
    hu’uh…tp dramanya juga gak ‘ngena’ menurutku…agh, padahal yng pas komedinya emang bikin ketawa sih. Yang lebay gitulah…

    thx 4 coming

  2. ow….
    gitu yah….
    kemaren diajak nonton sih, tapi ga jadi.

    hmmmm…………. karena selera film kita agak mirip2 *kecuali bagian oriental nya*, jadi berfikir ulang neh mo nonton si kambing…..

  3. kayaknya siyh….qmu bakalan bosen juz…

    dari semua orang yang telah aku temui dan blogwalking…juga pada kecewa ma ni film…
    fufufufu

  4. hahaha, i couldn’t agree more with you πŸ™‚
    but the thing is, i appreciate his effort to make a humour with new style, not like the others, yang kebanyakan main di area selangkangan dan slapstick πŸ™‚

  5. hahahahaaa..

    nah bnr kan..
    untung ga jadi nonton, ngliat trailer aja udah ga berminat..
    ternyata bener, ngecewain kan filmya??

    lagian, aq pribadi kurang suka nonoton film Indonesia di bioskop, soalnya ga rugi nonton di kos aja..

    sepanjang eksistensi (terinspirasi dr film twilight, eksistensi adalah untuk mreka yg hidup abadi) ku, aq baru nonton 3 film Indonesia di bioskop..

    ya gitu dehhhh

  6. yaaa cup…namanya juga kita berharap[banyak]…

    kalo menurutku sih, film tuh gak tergantung negaranya…tp tergantung siapa yng bikin dan siapa yng maen…

    πŸ˜€

  7. tapi ttp aja film indonesia jarang yang mantap..
    kadang akting nya ‘wagu’..

    aq nonton:

    Ayat-ayat Cinta, krn baca novelnya, dan aq suka, trus kenal sama kang abik (ih, sok kenal ya..) hehehehehee

    Get Married, krn diajakin sama tmn2 profesian, ga nyesel krn adegan pas tawuran mantap.

    Perempuan Berkalung Sorban, krn ada tmn yang main disono..

    udah, itu doank yang tak tonton film indonesia..

    huehehehehee

  8. film indo ku :

    Eiffel…i’m in Love -> pas SMA, dan waktu ituh OK!

    3 Hari Untuk Selamanya -> karena cowokku maen disana…karena yng bikin Riri Riza…dan OK!

    Get Married -> karena pemaennya terjamin…karena yng bikin Hanung Bramantyo…dan OK!

    Terowongan Casablanca -> karena nonton ma temen2 Exploit. Dan NYESALLLLLLLLL ABISSSSSS…!!!!

    Laskar Pelangi -> karena yang bikin OK! karena ceritanya OK! dan ternyata emang OK!

    KambingJantan -> karena yang maen, ceritanya, dan sutradaranya. dan ternyata kurang OK!

  9. yah novel emang tdk bisa disamakan dg film meskipun film itu mungkin diangkat dr sebuah novel.
    Di novel kita bebas menafsirkan sndiri isi dari novel itu, jd kita bebas berimajinasi mengenai segalanya dari novel itu mulai karakternya, suasana setting dsb. Tapi ketika novel itu mjd film maka kita akan “dpaksa” memahami novel itu dg imajinasi sang sutradara dan kru-nya. Akibatnya seringkali film nvel itu tdk sesuai harapan kita…

    //jiah ngomong apa aku ni, serius bgt…
    //cuma copas dr comment di FBmu hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s